This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Mei 2013

Kisah orang shalih dan gajah yang menakjubkan


Abu Abdillah al-Qalanisi dalam sebuah perjalanannya dengan mengendarai perahu. Tiba-tiba angin kencang menggoncangkan perahu yang ditumpanginya. Seluruh penumpang berdoa dengan khusyu’ demi keselamatan mereka dan mengucapkan sebuah nadzar.
Para penumpang berkata kepada Abu Abdillah, “Masing-masing kami telah berjanji kepada Allah dan bernadzar agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kami. Maka hendaknya kamu juga bernadzar dan bersumpah kepada Allah.” Dia menjawab, “Aku ini orang yang tidak perduli dengan dunia, aku tidak perlu bernadzar.”
Tetapi mereka memaksaku. Lalu aku bersumpah, “Demi Allah, sekiranya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkanku dari musibah yang menimpaku maka aku tidak akan makan daging gajah.”
Mereka bertanya, “Apakah boleh bernadzar seperti itu? Apakah ada orang yang mau makan daging gajah.?” Aku menjawab, “Itulah pilihanku, semoga Allah memberi ganjaran atas lisanku yang mengucapkan kata-kata itu.”
Benar, tidak lama kemudian kapal itu pecah.
Para penumpang terdampar di sebuah pantai. Berhari-hari kami berada di pantai tersebut tanpa makan sesuatu pun.
Ketika kami sedang duduk-duduk beristirahat, ada anak gajah lewat di depan kami. Mereka menangkap anak gajah tersebut, menyembelih lalu memakannya. Mereka menawariku makan seperti mereka. Aku menjawab, “Aku telah bernadzar dan bersumpah kepada Allah untuk tidak makan daging gajah.”
Mereka mengajukan alasan, bahwa aku dalam keadaan terpaksa, sehingga dibolehkan untuk membatalkannya. Aku menolak alasan mereka, aku tetap memenuhi sumpahku. Setelah makan, mereka merasa kenyang lalu tidur.
Pada saat mereka tidur, induk gajah datang mencari anaknya, ia berjalan mengikuti jejak anaknya sambil mengendus-endus. Hingga akhirnya ia menemukan potongan tulang anaknya.
Induk gajah itu pun sampai di tempat istirahat kami, aku memperhatikannya. Satu orang demi satu orang dia ciumi, setiap kali ia mencium bau daging anaknya pada orang itu, maka orang itu diinjak dengan kaki atau tangannya sampai mati. Kini mereka semua telah mati.
Tiba saatnya induk gajah mendekatiku, ia menciumku tapi tidak mendapatkan bau daging anaknya pada diriku. Lalu ia menggerakkan tubuh bagian belakangnya, ia memberi isyarat, kemudian mengangkat ekor dan kakinya.
Dari gerakan tubuh gajah itu aku mengerti bahwa ia menghendaki agar aku menungganginya. Lalu aku naik, duduk di atasnya. Ia memberi isyarat agar aku duduk dengan tenang di atas punggungnya yang empuk. Ia membawaku berlari kencang sehingga malam itu juga aku tiba di sebuah perkebunan yang banyak pepohonan. Ia memberi isyarat agar aku turun dengan bantuan kakinya, maka aku pun turun. Kemudian ia berlari lebih kencang dari pada saat ia membawaku tadi.
Di pagi hari, aku menyaksikan di sekilingku hamparan sawah, perkebunan dan sekelompok orang. Orang-orang tersebut membawaku ke rumah kepala suku. Juru bicara suku itu memintaku berbicara. Kemudian aku ceritakan tentang diriku dan kejadian yang dialami sekelompok orang dan rombongan dalam perahuku.
Juru bicara itu bertanya kepadaku, “Tahukah kamu berapa jauh jarak perjalananmu dengan seekor gajah itu.?” Aku jawab, “Tidak tahu!” Ia menjawab, “Sejauh perjalanan selama 8 hari! Sementara Gajah itu membawamu lari hanya dalam satu malam.”
Selanjutnya aku diperkenankan tinggal bersama mereka di desa tersebut sehingga aku mendapat pekerjaan. Setelah itu aku pulang ke kampungku.

Sumber : Kisahislam.net

Abu Uqail... Meninggal dengan jari menunjuk ke langit


Dari Ja’far bin Abdillah bin Aslam berkata, “Tatkala peperangan Yamamah berlangsung dan kaum muslimin berada di tengah medan perang, orang yang pertama kali mendapat luka adalah Abu Uqail. Dia terkena panah pada bagian antara kedua bahu dan dadanya namun tidak meninggal dunia. Kemudian panah itu dicabut sehingga pada siang hari tangan kirinya terasa lemah. Kemudian ia dibawa ke dalam kemah.
Ketika peperangan semakin memanas, umat Islam tampak mengalami kekalahan serta mulai melewati batas yang diten-tukan, sementara itu Abu Uqail dalam kondisi lemah karena luka, tiba-tiba ia mendengar Ma’n bin Addy menyeru, ‘Wahai kaum Anshar, mohonlah pertolongan kepada Allah, mohonlah pertolongan kepada Allah, seranglah musuhmu!’
Ibnu Umar berkata, “Setelah mendengar seruan itu Abu Uqail berdiri untuk menemui kaumnya. Maka aku bertanya, ‘Apa yang kamu inginkan? Kamu tidak wajib menyerang!’
Abu Uqail menjawab, ‘Tadi ada seseorang memanggil namaku.’
Aku katakan kepadanya, ‘Orang yang memanggil itu mengatakan, ‘Wahai orang-orang Anshar, bukan memanggil wahai orang-orang yang terluka!’
Abu Uqail berkata, ‘Aku termasuk salah satu orang Anshar, oleh karena itu aku harus menyambut seruannya sekalipun dengan merangkak.’
Kemudian Abu Uqail memakai ikat sabuknya dan mengambil pedang dengan tangan kanannya seraya menyeru, ‘Wahai kaum Anshar, seranglah musuh sebagaimana dalam perang Hunain! Bersatulah kamu sekalian semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu. Majulah ke medan perang sebab kaum muslimin itu bersembunyi sekedar memperdayakan musuh, giringlah musuhmu sehingga masuk ke dalam kebun kemudian kamu membaur dengan mereka dan pedang-pedang kalian memenggal mereka.’
Aku perhatikan bagian-bagian tubuh Abu Uqail ternyata tangannya yang terluka telah lepas dari bahunya dan jatuh di medan peperangan. Pada tubuhnya terdapat 14 luka yang menyebabkan ia meninggal dunia. Saat itu musuh Allah, Musailamah telah terbunuh.
Aku berada di sisi Abu Uqail ketika dia menghembuskan nafas yang terakhir. Aku memanggil namanya, ‘Wahai Abu Uqail! Dia menjawab, ‘Labbaik -dengan terbata-bata- siapa yang kalah?’ Aku menjawab, ‘Bergembiralah, musuh Allah telah terbunuh.’ Kemudian ia menunjuk ke langit dengan jarinya sambil memuji Allah lalu meninggal dunia. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya.” (Masyari’ul Asywaq Ila Mashari’il ‘Isyaq, 1/509.)

Sumber : Kisahislam.net

Muhammad bin Wasi’ : Panutan Dalam Pelajaran Ikhlas


Seorang pembesar bernama Malik bin Al Mundzir pernah mengundangnya.”Terimalah jabatan sebagai Qadhi!”. Tetapi Muhammad bin Wasi’ menolak, tapi Malik tetap membujuknya dan berkata,”Kamu harus mau menjabat sebagai Qadhi, jika tidak aku akan mencambukmu sebanyak tigaratus kali!”. Muhammad bin Wasi’ mengatakan,”Jika engkau lakukan, engkau orang yang semena-mena. Sungguh,hina di dunia lebih baik daripada hina di akhirat”.
Hammad bin Zaid berkata,”Ada orang berkata kepada Muhammad bin Wasi’,”Berikanlah wasiat untukku!”. Beliau menjawab ; ”Aku wasiatkan kepadamu agar engkau menjadi raja di dunia dan akhirat”. Orang itu bertanya,”Bagaimanakah caranya?”.Muhammad bin Wasi’ menjelaskan,”Bersikaplah zuhud terhadap dunia”.
Sulaiman At Taimi berkata : “Aku tidak pernah melihat orang yang khusyu’nya melebihi Muhammad bin Wasi’”
Hazm Al Qath’i berkata,”Muhammad bin Wasi’ berkata menjelang wafatnya,”Wahai saudara-saudara,tahukah kalian kemana aku akan dibawa pergi? Demi Allah, ke neraka kecuali Allah memberikan ampunan untukku”
Muhammad bin Wasi’ jika ditanya,”Apa kabar anda pagi ini?”. Beliau menjawab,”Ajalku dekat, angan-anganku masih panjang sementara amalanku buruk”
Muhammad bin Wasi’ berkata ,”Sungguh, ada seseorang sering menangis selama duapuluh tahun dan istrinya yang selalu didekatnya tidak pernah tahu”.

Sumber : Kisahislam.net

Kisah lelaki yang diberi pahala atas niatnya yang baik


Imam Al-Bukhari Rahimahullah (III/290) berkata, “Kami mendapattkan riwayat dari Abul Yaman, dari Syu’aib, dari Abu Az-­Zannad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Seorang lelaki berkata, ‘Aku akan memberikan sedekah pada malam ini’. Lalu, dia keluar membawa sedekahnya dan meletakkannya di tangan seorang wanita pezina. Orang-orang saling membicarakannya, ‘Tadi malam, seorang wanita pezina mendapatkan sedekah’. Lelaki itu mengucap, ‘Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji! Sedekahku jatuh pada wanita pezina. Aku akan bersedekah lagi’.
Dia keluar membawa sedekahnya lagi dan meletak­kannya di tangan orang kaya. Keesokan harinya orang-orang membicarakan, Sedekah diberikan kepada orang kaya’. Orang itu mengucap, ‘Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji! Sedekahku jatuh pada orang kaya. Aku akan bersedekah lagi’.
Dia pun keluar dengan membawa sedekah dan meletakkannya ditangan pencuri. Esoknya orang-orang membicarakan, ‘Sedekah diberikan kepada pencuri’. Orang itu mengucap, ‘Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji! Sedekahku ternyata jatuh pada wanita pezina, pada orang kaya, dan pada pencuri’.
Lalu, dia didatangi dan dikatakan kepadanya, ‘Sedekahmu benar-benar telah diterima. Boleh jadi wanita pezina itu akan menghentikan perbuatan zinanya karena sedekahmu. Orang kaya (yang diberi sedekah) bisa mengambil pelajaran dan mau memberikan sebagian apa yang telah dianu­gerahkan oleh Allah kepadanya. Mungkin saja, pencuri menghentikan perbuatan mencurinya karena sedekahmu’.” [Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, kitab az-Zakat (VII/110)
Sumber: Kisah Karomah Para Wali Allah, Penerbit Darul Falah, Hal.27

Selama ikhlas, Pasti ada dampaknya


Syaikh Al-Arify pernah bercerita dalam kajian di channel Al-Khalijiyyah, berjudul Al-Jahlu bi Ad-Diin (kebodohan akan perkara agama). Suatu hari beliau diundang ceramah di suatu kampus di Timur Tengah. Beliau pun menjawabnya dan datang di waktu yang tepatnya ditentukan.
Ternyata, kelakuan para hadirin, yaitu para mahasiswa kampus tersebut, mengecewakan beliau. Tersebab ketika beliau menjajakan ilmu bermanfaat, banyak dari mereka saling ‘berkicau’. Adab majelis hilang. Sebagian hadirin pun perhatiannya sungguh kurang. Syaikh Al-Arify pulang dengan kekecewaan. Ia merasa belum pernah ada kajian seburuk itu dan berharap tak terulang. Namun, beliau berusaha meredam kekecewaan dan mendoakan yang terbaik.
Setahun kemudian, beliau ditelepon oleh pihak kampus. Mereka hendak lagi mengundang beliau untuk mengisi kajian. Mendengar nama kampus tersebut, beliau merasa menjawabnya tidak harus. Namun, bagaimanapun ia tidak bisa mencari alasan untuk kabur dari permintaan.
Beliau pun setuju. Dengan perasaan beda dan berharap para hadirin lebih tahu malu.
Dan rupanya mereka masih saja begitu. Mengecewakan seolah adab majelis telah dicabut dari jiwa-jiwa mereka. Syaikh Al-Arify hendak pulang kembali dengan kekecewaan yang bertalu-talu. Namun, seorang mahasiswa mencegahnya seraya berkata:
“Wahai, Syaikh, antum di tahun lalu menganjurkan kami untuk selalu shalat malam!”
Syaikh menjawab, “Na’am!”
“Wahai Syaikh, ketahuilah, demi Allah, saya adalah yang memperhatikan kalimat Anda di kajian tahun lalu. Dan mulai malam itu, selama setahun penuh hingga sekarang, saya tidak pernah luput melakukan shalat malam!”
Syaikh Al-Arify berusaha menahan keterkejutan dan kegembiraannya.
======================
Teringat perkataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimiin -rahimahullah- yang saya baca di kitab Syarh Al-Arba’iin An-Nawawiyyah:
فلا تحزن أيها الداعي إلى الله إذا لم تقبل دعوتك، فإذا أدّيت ما يجب عليك فقد برئت الذمة والحساب على الله تعالى،
ولكن اعلم أنك إذا قلت حقاً تريد به وجه الله فلابد أن يؤثر، حتى لو رد أمامك فلابد أن يؤثر، والله الموفق
“Maka, janganlah engkau sedih wahai dai menuju jalan Allah, jika dakwahmu belum diterima! Jika engkau telah menunaikan apa yang wajib bagimu, maka lepaslah bebanmu. Hitungan kemudian adalah urusan Allah Ta’ala.
Tetapi KETAHUILAH, bahwasanya engkau, jika engkau berucap suatu kebenaran yang kau inginkan dengannya wajah Allah, maka PASTI akan membekas [memberi dampak], MESKIPUN orang di depanmu secara nyata menentangmu. Ia pasti akan membekas. Dan Allah lah yang Memberi Taufiq!” [Syarh Al-Arba'iin An-Nawawiyyah, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 153]
Dan itu bisa Anda terapkan di status-status Anda, ataupun blog Anda, untuk dunia maya. Tidak mesti orang yang menerima kalimat Anda atau terbekas di hatinya akannya, mengatakan dan mengakuinya. Biarlah Allah yang mencatatnya. Tidak harus kita ketahui siapa-siapa; karena tugas kita perihal kebenaran: menyampaikannya.
Wallahu al-muwaffiq!

Sumber : Kisahislam.net

Senin, 20 Mei 2013

Tampan luar dalam


Assalamu’alaikum
         Pada suatu hari, Ahnaf bin Qais didatangi oleh seorang pemuda dari suku Tha’i. Pemuda itu sangat tampan sekali, hingga Ahnaf bin Qais sangat mengagumi wajah yang dimiliki oleh pemuda yang saat itu duduk dihadapannya.
“Pemuda ini sangat tampan. Mungkin ia seorang yang gemar berolahraga, sehingga wajahnya terlihat sehat dan terpelihara. Atau mungkin pemuda ini banyak uangnya, sehingga mampu memelihara diri dengan pakaian dan perhiasan,” Kata Ahnaf bin Qais dalam hati.
        
         Karena tak dapat menahan keinginannya, Ahnaf kemudian bertanya kepada pemuda suku Tha’i itu.

“Wahai pemuda, ada rahasiannya sehingga kau dapat memiliki wajah yang tampan ini?”
“Resepnya ada empat” Jawab pemuda itu tak terduga.
“Apa itu?” tanya Ahnaf bin Qais ingin tahu.
“Pertama, bila orang berbicara padaku, aku mendengarkannya dengan baik. Kedua, bila berjanji, pasti kutepati. Ketiga, bila diriku diperhitungkan orang, maka kurelakan. Keempat, bila aku dipercaya, aku tak mau mengkhianatinya.”

         Mendengar jawaban pemuda itu, Ahnaf bin Qais termenung sejenak.
“Inilah type pemuda yang tampan luar dan dalamnya” gumamnya dalam hati berkomentar.

         Semoga cerita diatas dapat kita ambil hikmah dan nilai positifnya, Aamiin. Wassalamu’alaikum. J


Sumber : Kumpulan dongeng anak-anak muslim.

Habis untuk sedekah


Assalamu’alaikum
         Kembali dari Sana’a (Yaman) menuju kota Mekkah, Imam Syafi’i masih menyimpan uang bekalnya sebesar 10 dinar.

“Setibanya di Mekkah nanti, dengan uang itu anda dapat membeli sebidang tanah” kata seorang sahabatnya yang mengetahui.

         Imam Syafi’i diam, tak menjawab sepatah kata pun. Kemudian ia mengajak sahabatnya untuk berhenti di suatu tempat, dan mereka lalu mendirikan kemah. Imam Syafi’i Kemudian duduk dan membeber uang bekalnya ditanah, lalu dibagi-bagikan kepada orang yang lewat. Salat sholat dhuhur tiba, uang bekal Imam Syafi’i telah habis dibagikan. Kemudian berdiri dan mengibaskan pakaiannya.

“Bagaimana anda nanti tiba di Mekkah tanpa memiliki uang?” tanya sahabbatnya.
“Seandainya aku memasuki kota Mekkah dengan membawa uang itu, aku tak menjamin tentang keselamatanmu” Jawab Imam Syafi’i.

“Wahai anak adam, infaqkanlah harta kalian. Berbuatlah lapang, agar dirimu dilapangkan dalam persoalan. Janganlah engkau terlalu berhemat demi belanja di duniamu, niscahya engkau akan disediakan belanja yang cukup. Belanjakanlah sisanya untuk akhiratmu,  Sebelum jiwamu dipanggil Tuhan” Kata Imam Syafi’i kemudian, menasihati sahabatnya.

         Semoga bermanfaat, Aamiin. Wassalamu’alaikum. J



Sumber : Kumpulan dongeng anak-anak muslim.

Menyepelekan Shalat


Assalamu’alaikum
         Kakak perempuan Fulan telah meninggal dunia. Saat Fulan ikut mengubur kakaknya, kantung uangnya terjatuh dan tertimbun tanah, ia tak sempat mengambilnya. Setelah upacara pemakaman selesai dan semua orang yang melayat sudah pulang, Fulan menggali lagi kuburan kakaknya untuk mengambil kantung uang yang tertimbun.
         Betapa terkejutnya Fulan, dalam liang kubur kakak perempuannya itu keluar api menyala. Dengan cepat Fulan menimbun kembali kuburan itu, ia mengurungkan niatnya untuk mengambil kantung uang miliknya. Bergegas ia pulang kerumah, dan dengan menangis ia menemui ibunya.

“Ibu apa yang telah diperbuat kakak perempuanku, hingga terjadi demikian?” tanya Fulan kepada ibunya.
“Apa yang terjadi, anakku?”
“Ketika aku menggali kubur kakak untuk mengambil kantung uangku yang terjatuh, keluarlah api dari liang kuburnya.” kata Fulan, menceritakan apa yang baru saja dilihatnya.

         Mendengar cerita anaknya, sang ibu hanya diam terpaku. Pandangannya menerawang jauh, air matanya meleleh membasahi kedua pipinya. Ia sangat menyesali apa yang telah diperbuat anak perempuannya semasa hidup.

“Apa yang diperbuatannya ibu?” tanya Fulan lagi. Rasa ingin tahunya semakin besar melihat reaksi ibunya.
“Wahai anakku,Fulan. Kakak perempuanmu dulu semasa hidupnya suka menyepalekan shalat, dan mengakhirkan waktu shalatnya” Jawab ibu Fulan sangat sedih.

         Semoga kita bisa mengambil hikmah dari cerita diatas. Aamiin. Wassalamu’alaikum.



Sumber : Kumpulan dongeng anak-anak Muslim

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More